Arikel Terkini

BALAI VETERINER BANJARBARU

Admin / 15 Nov 2023

Budidaya sapi potong, usaha yang menjajikan

Indonesia masih membutuhan banyak bibit sapi potong, hal ini dikarenakan bibit sapi potong merupakan salah satu faktor produksi yang menentukan dan mempunyai nilai strategis dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuhan daging terutama dalam mendukung swasembada daging sapi. Cara yang utama untuk meningkatkan keseimbangan penyediaan dan kebutuhan ternak sangat tergantung pada ketersediaan bibit yang berkualitas. Oleh karena itu upaya perbaikan mutu dan penyediaan bibit yang memenuhi standar dalam jumlah yang cukup dan tersedia secara berkelanjutan serta harga terjangkau harus diupayakan secara terus menerus.

Potensi ternak sapi potong di Indonesia masih luar biasa, dan pangsa pasar dalam negeri pun sudah sangat terbuka. Namun, peternakan sapi potong masih dikelola secara tradisional, kualitas ternak yang kurang baik serta manajemen pemeliharaan ala kadarnya sehingga tidak mengherankan apabila sapi yang dipelihara memiliki pertambahan bobot harian yang sangat rendah. Disamping itu skala kepemilikan berkisar 2 – 3 ekor/ rumah tangga, kondisi ini jelas sangat merugikan peternak sendiri karena kurang mendapatkan hasil yang memuaskan. Agar dapat memberikan hasil yang optimal, peternak perlu memiliki pengetahuan yang cukup sebelum memelihara ternak sapinya. Banyak tahapan dan langkah yang harus diketahui peternak dan beberapa diantaranya adalah tentang: pemilihan lokasi, sarana dan prasarana, bibit, Metode Penggemukan dan perkandangan. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut.

Pemilihan lokasi. Kriteria yang harus dipenuhi adalah: a) Tidak bertentangan dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR); b) Letak geografis yang cocok dengan memperhatikan: Temperatur, Curah hujan, Arah angin, Kelembaban, dan Topografi.

Sarana dan Prasarana: a) Infrastuktur yang memadai (bangunan, transportasi, komunikasi, listrik); b) Air memenuhi baku mutu air sehat, dapat diminum oleh manusia dan ternak, tersedia sepanjang tahun.

Pemilihan Bibit. a)Syarat  pembibitan: Sehat dan tidak cacat, Umur  ≤ 1 tahun; b)Syarat  pembesaran: Sehat dan tidak cacat, Umur  ≤ 1  tahun, Perlu dipertimbangkan ternak kurus sehat (flusing); c) Syarat penggemukan: Sehat dan tidak cacat, Umur 1-2 tahun, Perlu dipertimbangkan ternak kurus sehat (flusing).

Metode Penggemukan. a)Padang pengembalaan (Pasture fattening). Pada metode ini, sapi berada di padang pengembalaan sepanjang hari. Sapi tersebut baru dimasukkan ke dalam kandang pada malam hari atau pada saat matahari bersinar terik. Sapi tidak mendapat pakan penguat artinya sapi hanya mendapat pakan hijauan yang ada di padang pengembalaan. Selain itu disarankan di sekitar padang juga ditanami leguminosa pohon, misalnya lamtoro dan gamal; b)Dry lot fattening (Pembatasan hijauan dan mengutamakan biji-bijian). Di sini sapi ditempatkan didalam kandang sepanjang waktu. Pakan hijauan dan konsentrat diberikan kepada sapi didalam kandang. Konsentrat merupakan porsi utama ransum yang diberikan, perbandingan hijauan: konsentrat berkisar 40 : 60 sampai 20 : 80. Perbandingan didasarkan pada bobot bahan kering (BK); c)Sistem kombinasi. Dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu: 1.Pada musim hujan, saat hijauan melimpah sapi digembalakan di padang pengembalaan, sementara pada musim kemarau sapi dikandangkan dan dipelihara secara dry lot fattening; 2.Pada siang hari sapi digembalakan dipadangan, sementara pada malam hari sapi dikandangkan dan diberi konsentrat.

Perkandangan. Bentuk dan ukuran kandang disesuaikan dengan jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1m. A.Persyaratan Kandang: a)Memenuhi daya tampung ternak; b)Lantai kandang tidak licin dan kemiringan 5–10%; c)Arah kandang menghadap ke timur; d)Sirkulasi udara lancer; e)Berbahan ekonomis namun tetap menjamin kemudahan pemeliharaan, pembersihan dan disinfektan kandang; f)Bersaluran pembuangan limbah yang lancer; g)Bahan dan Konstruksi kandang menjamin ternak dari kecelakaan dan kerusakan fisik ternak. B.Model Kandang: a)Kandang bebas (koloni), merupakan barak terbuka tanpa penyekat sehingga ternak bebas bergerak pada areal yang cukup luas. Keuntungannya: 1)Biaya pembuatan lebih murah; 2)Pemakaian tenaga kerja lebih sedikit; 3)Kemungkinan diperluas tanpa ada banyak perubahan; 4)Sarana yang mudah untuk mendeteksi berahi; 5)Ternak merasa bebas meskipun kesempatan merumput terbatas; 6)Pergerakan ternak cukup bebas sehingga gangguan kekakuan kaki,kebengkakan lutut,lecet pada paha dan luka pada pundak dapat diperkecil; b)Kandang Konvensional, ternak diberi penyekat dari tembok/besi bulat dan lehernya ditambatkan atau diikat dengan rantai atau tali.Ternak hanya bergerak maju mundur dan berbaring di lantai. Posisi ternak dibuat sejajar lazim disebut sistem stall, sehingga kandang tampak rapi, mudah dibersihkan, kotoran ternak mudah dibuang lewat parit; C.Peralatan Kandang. Yang harus tersedia: 1)Alat/tempat pakan dan minum ternak. Posisinya tempatkan di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai; 2)Peralatan sanitasi kandang. Terdiri dari: ember, sapu, sikat, sekop, sabit, hand sprayer dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit.

Dirangkum dari berbagai sumber.

Berita Terkini
Artikel

Bagikan Halaman ini





close
Pembaca Layar
Kontras
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jeda Animasi
Ramah Disleksia
Kursor
Jarak Baris
Perataan Teks
Saturasi
Reset